Kali ini petualangan The Genjrings berlokasi di Kampung Semangka, Bekasi, kampung halaman Ben. Karena konflik yang terjadi antara Kampung Semangka dan Kampung Durian, Ben dan Domi yang menghabiskan liburan di rumah Ben terkurung di Kampung Semangka. Bisakah The Genjrings menyelamatkan mereka?
Hubungan antara personil The Genjrings jadi merenggang gara-gara munculnya organisasi-organisasi kedaerahan. Domi, yang ingin The Genjrings kembali kompak, tidak tinggal diam.
The Genjrings ingin ikutan festival band di luar pesantren. Tapi, ustad mereka tidak mengizinkan. Mereka pun nekad kabur dari pesantren untuk tampil di festival band tersebut.
Pesantren As-Salam, sekolah The Genjrings, kedatangan siswa-siswa Brain International School. Dengan adanya prasangka di antara mereka, bisakah mereka berteman?
Penampilan kejutan Deden dengan gitarnya di pentas seni membuat Domi dan Malik dkk. yang tergabung dalam grup nasyid Pesantrend gerah. Apalagi di penampilan yang membuatnya mendadak ngetop itu Deden mengajak Ben, salah satu personel Pesantrend. Pertengkaran di antara Deden dan Pesantrend pun tidak terelakkan. Ikuti kisah seru awal kelahiran band fenomenal The Genjrings di komik edisi perdana ini!
Tak terasa sudah tiga bulan Zul, Vera dan Sisca menjalani petualangan-dari pesantren Al-Falah ke pesantren-pesantren lainnya. Bagaimana perjalanan ini mengubah hidup mereka?
Para santri antusias karena band The Genjrings akan tampil dalam sebuah pementasan. Tapi, penampilan band ini jadi tertunda karena panggung belum siap. Pasalnya, panitia panggung justru berdemo menuntut Zul dan Vera dikeluarkan dari pesantren karena disangka berpacaran!
Seorang anak tersesat di dalam gua. Zul, Vera dan Siska harus bekerja sama dan bahu-membahu untuk menolong anak tersebut.
Tiga bersaudara, Zulfikar, Sisca dan Vera berkunjung ke sebuah pesantren untuk menyampaikan kabar duka. Di pesantren ini jugalah mereka belajar menghadapi perbedaan.
Kedatangan Zulfikar dari Jakarta membuat semua orang di Pesantren Al-Falah bersemangat, terutama Ki Alit.
Pesantren Al-Falah yang dulu tersohor karena berperan penting dalam perjuangan melawan tentara Jepang kini makin tak terdengar. Dengan hanya 11 santri yang tersisa, Ki Alit sang pimpinan pesantren pun mencari seseorang untuk meneruskan keberadaan pesantren ini.
Berkat Gebora, Ical, Nurli, Beben, Dara dan Matra'i telah belajar untuk saling mengenal dan bangga jadi diri sendiri.
Ical si anak Melayu, Matra?i si anak Madura, Beben si anak Sunda, Dara si putri Dayak dan Nurli si putri Tionghoa hidup di Desa Pagar Bukit, Kalimantan. Meski berbeda-beda suku dan agama, mereka menemukan kesamaan yang mempersatukan mereka: kecintaan akan sepakbola. Pertama kali terbit pada Januari 2003, Gebora (Geng Bola Gembira) adalah respon langsung SFCG Indonesia terhadap konflik sosial an…
Ical si anak Melayu, Matra?i si anak Madura, Beben si anak Sunda, Dara si putri Dayak dan Nurli si putri Tionghoa hidup di Desa Pagar Bukit, Kalimantan. Meski berbeda-beda suku dan agama, mereka menemukan kesamaan yang mempersatukan mereka: kecintaan akan sepakbola. Pertama kali terbit pada Januari 2003, Gebora (Geng Bola Gembira) adalah respon langsung SFCG Indonesia terhadap konflik sosial an…
Ical si anak Melayu, Matra?i si anak Madura, Beben si anak Sunda, Dara si putri Dayak dan Nurli si putri Tionghoa hidup di Desa Pagar Bukit, Kalimantan. Meski berbeda-beda suku dan agama, mereka menemukan kesamaan yang mempersatukan mereka: kecintaan akan sepakbola. Pertama kali terbit pada Januari 2003, Gebora (Geng Bola Gembira) adalah respon langsung SFCG Indonesia terhadap konflik sosial an…
Ical si anak Melayu, Matra?i si anak Madura, Beben si anak Sunda, Dara si putri Dayak dan Nurli si putri Tionghoa hidup di Desa Pagar Bukit, Kalimantan. Meski berbeda-beda suku dan agama, mereka menemukan kesamaan yang mempersatukan mereka: kecintaan akan sepakbola. Pertama kali terbit pada Januari 2003, Gebora (Geng Bola Gembira) adalah respon langsung SFCG Indonesia terhadap konflik sosial an…
Ical si anak Melayu, Matra?i si anak Madura, Beben si anak Sunda, Dara si putri Dayak dan Nurli si putri Tionghoa hidup di Desa Pagar Bukit, Kalimantan. Meski berbeda-beda suku dan agama, mereka menemukan kesamaan yang mempersatukan mereka: kecintaan akan sepakbola. Pertama kali terbit pada Januari 2003, Gebora (Geng Bola Gembira) adalah respon langsung SFCG Indonesia terhadap konflik sosial an…
Ical si anak Melayu, Matra?i si anak Madura, Beben si anak Sunda, Dara si putri Dayak dan Nurli si putri Tionghoa hidup di Desa Pagar Bukit, Kalimantan. Meski berbeda-beda suku dan agama, mereka menemukan kesamaan yang mempersatukan mereka: kecintaan akan sepakbola. Pertama kali terbit pada Januari 2003, Gebora (Geng Bola Gembira) adalah respon langsung SFCG Indonesia terhadap konflik sosial an…
Ical si anak Melayu, Matra?i si anak Madura, Beben si anak Sunda, Dara si putri Dayak dan Nurli si putri Tionghoa hidup di Desa Pagar Bukit, Kalimantan. Meski berbeda-beda suku dan agama, mereka menemukan kesamaan yang mempersatukan mereka: kecintaan akan sepakbola. Pertama kali terbit pada Januari 2003, Gebora (Geng Bola Gembira) adalah respon langsung SFCG Indonesia terhadap konflik sosial an…
Ical si anak Melayu, Matra?i si anak Madura, Beben si anak Sunda, Dara si putri Dayak dan Nurli si putri Tionghoa hidup di Desa Pagar Bukit, Kalimantan. Meski berbeda-beda suku dan agama, mereka menemukan kesamaan yang mempersatukan mereka: kecintaan akan sepakbola. Pertama kali terbit pada Januari 2003, Gebora (Geng Bola Gembira) adalah respon langsung SFCG Indonesia terhadap konflik sosial an…