# /home/u1041419/public_html/uqsmp/lib/SearchEngine/SearchBiblioEngine.php:685^ "Engine ⚙️ : SLiMS\SearchEngine\SearchBiblioEngine"
^ "SQL ⚒️"
^ array:2 [ "count" => "select count(sb.biblio_id) from search_biblio as sb where sb.opac_hide=0 and ((match (sb.author) against (:author in boolean mode)))" "query" => "select sb.biblio_id, sb.title, sb.author, sb.topic, sb.image, sb.isbn_issn, sb.publisher, sb.publish_place, sb.publish_year, sb.labels, sb.input_date, sb.edition, sb.collation, sb.series_title, sb.call_number from search_biblio as sb where sb.opac_hide=0 and ((match (sb.author) against (:author in boolean mode))) order by sb.last_update desc limit 20 offset 0" ]
^ "Bind Value ⚒️"
^ array:1 [ ":author" => "'+Feri'" ]
Kian menjadi dan seolah berakar sangat dalam. Begitulah kesan yang timbul saat kita mengamati korupsi yang demikian marak di negeri ini. Pada satu titik, timbul pertanyaan menggelitik. Adakah korupsi ini merupakan budaya yang diwariskan para pendahulu kita? Apakah korupsi itu adalah warisan sejarah? Apakah kita memang anak cucu para koruptor? Untuk menjawabnya, marilah menengok sejarah. Di sana…